Sabtu, 06 Agustus 2011

Sebuah Cerita Tentang Bidan Desa

Hari itu hujan membasahi bumi, berton-ton air tertumpah membasahi tanah yang selalu merindukannya, dedaunan basah, dan akar-akar pohon mulai bekerja menyerap air untuk kelangsungan hidupnya, di puncak bukit disebelah utara tampak dua ekor burung kutilang sedang bersembunyi, berteduh sekaligus bermesaraan disebatang dahan pohon cemara.

Disebuah rumah yang terletak di kaki bukit tersebut, tampak seorang gadis berjilbab, sedang termenung didalam kamarnya, menatap kosong kearah jendela sambil berharap sang mentari akan segera bersinar, menyeruak diantara awan-awan hitam yang kini menghiasi bumi. Dia tau disana di tempat dia bekerja banyak para ibu yang sedang menanti kedatangannya, ya… karena dialah satu-satunya bidan yang berada didesa tempat dia sekarang ditugaskan, Bidan Ana begitulah biasa dia dipanggil.

Ditengah keasikannya memandangi tetesan air yang jatuh dari atap rumahnya, terdengar bunyi ketukan, keras dan cepat. Sedikit terkejut, gadis tersebut segera bangkit dan dengan setengah berlari menuju pintu, tidak menghiraukan kursi yang disenggolnya hingga jatuh, dia segera membuka pintu tersebut. Tampak seorang lelaki muda, tinggi dan berbadan besar, wajahnya pucat pasi memelas,sehingga tampak lebih tua dari usia yang sesungguhnya, dengan nafas tersengal-sengal tampaklah bahwa lelaki tersebut telah berlari secepatnya untuk sampai kerumah ini.

”Eh Pak Eko, ada apa nih pak.. hujan-hujan begini kok lari-lari, ayo masuk dulu pak” kata Bidan Ana.

”Anu bu.. itu.. anu saya, udah mau anu..” bapak tersebut tampak terburu-buru untuk bicara sehingga salah kaprah.
Tersenyum, sang bidan berkata ”tenang dulu pak, jangan terburu-buru gitu.. masa anunya mau anu… hihihi”.

Tersadar, sang bapak pun malu sendiri, lalu berkata ”itu bu, istri saya.. Bu Emil mau melahirkan, sekarang ada di Puskesmas bu.. ayo bu.. cepat bu..”

Sambil berkata ”Tunggu sebentar yah pak” sang bidan yang bertubuh kecil tersebut segera berlari ke kamarnya, mengambil perlengkapan yang sebelumnya sudah dia siapkan dan segera kembali menuju kedepan, untuk selanjutnya bersama sang bapak yang sudah menyiapkan sebuah payung untuk dirinya, bersama-sama pergi ke arah barat ke tempat Puskesmas tersebut.

Ini bukan yg pertama kalinya suami sang pasien menjemput dirinya, pernah suatu malam seorang bapak-bapak yang masih menggunakan sarung dan berbalut kaos dalam, membangunkannya karena ketuban sang istri sudah pecah, dan bapak tersebut lebih memilih Bidan Ana daripada harus meminta tolong kepada Dukun Beranak di desa tersebut. Hal ini lah yg membuat para Bidan di desa tidak disukai oleh para Dukun Beranak, karena secara tidak langsung bidan-bidan tersebut mengambil lahan si dukun.

Ditengah guyuran hujan mereka berdua, Pak Eko dan Bidan Ana, tampak kesulitan berjalan di pematang-pematang sawah, melewati berpetak-petak padi berwarna hijau yang seakan-akan menari-nari kegirangan karena hujan yang turun ini. Para petani tampak sedang berleha-leha, di pondok-pondok kayu ditengah-tengah sawah mereka. Bersiul sambil bernyanyi, karena membayangkan padi mereka akan tumbuh segar, yang berarti rezeki mereka sudah didepan mata.

Setelah melewati sawah-sawah tersebut, tampaklah sebuah bangunan batu berwarna putih yang berdiri megah dikeliling beberapa pohon rambutan, disekitar bangunan tersebut terlihat anak-anak kecil sedang bermain tak-umpet, berlari kesana kemari mencari tempat untuk sembunyi. Didepan bangunan tersebut berdiri papan kayu yang sedikit reot, bertuliskan Pusban ( Puskesmas Bantuan ) Desa Sakarepe (Sak karep e /red.)

Dengan nafas tersengal-sengal karena mengikuti langkah-langkah panjang sang bapak, akhirnya Bidan Ana meletakkan payungnya disudut pintu, tampak olehnya para pasien berdiri didepan loket kecil yg tersedia seadanya, menanti giliran mendapatkan pelayanan.Terus menuju ruangan kecil disebelah kiri pintu yang tadi.

Ketika sampai di ujung ruangan, Bidan Ana terkejut karena hampir bertabrakan dengan seorang pria, pria tersebut bertubuh tinggi, kurus, dengan bulu mata dan alis yang tebal menghiasi wajah tirusnya, tahi lalat tertempel manis diatas bibir pria tersebut. Wajah tampan pria tersebut membuat Bidan Ana tertarik, tetapi dia langsung teringat kekasihnya yang dikota bernama Ijul, yang berjanji akan melamarnya Bulan Haji yang akan datang. Tetapi sayangnya sudah tiga kali puasa tiga kali lebaran bang Ijul belum pulang-pulang^0^.

Di sebuah ruangan yang memang telah dipersiapkan tampak seorang ibu sedang mengerang kesakitan, karena buah hatinya yang telah dibawanya kemana-mana selama 9 bulan sudah tidak sabar untuk keluar menatap indahnya dunia hasil ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.

Setelah berganti pakaian dengan pakaian dinasnya, Sang Bidan melaksanakan tugasnya, mengucapkan kalimat ”Dorong bu..”, ”Tarik Nafas”, ”Keluarkan”, berulang-ulang tiada henti, dan sang ibu hamil pun menuruti semua kalimatnya, perjuangan hidup mati sang Ibu.

Sang Bidan tahu, dia harus melaksanakan tugasnya dengan benar, salah sedikit dua nyawa bisa menghilang, begitu beratnya tugas yang harus di emban oleh bidan kecil ini. Setiap detik, setiap menit dari setiap hembusan nafas sang ibu menjadi tanggung jawab moral bagi bidan tersebut.

Tetapi meskipun bertubuh kecil, sang bidan sudah terbiasa dengan tugasnya, tangannya cekatan, ucapan-ucapannya tegas, membuat sang ibu mempercayakan semuanya kepadanya. Walaupun sang suami, semakin terlihat tidak karuan mendengar teriakan dan erangan istrinya, sang suami mulai berjalan mondar mandir, membuat lingkaran tak beraturan di lorong puskesmas. Beberapa bapak-bapak lainnya mencoba menenangkannya.

”Tenang pak Eko, tenang…. semuanya bakal baik-baik saja” yang berkata adalah seorang bapak, dengan wajah sedikit seram, kumis lebat diatas bibirnya, dan rambut hitam yang telah disemir sebelumnya dirumahnya, tetapi karena kurang rapi, masih terlihat warna putih rambut aslinya (ada yg tahu bapak ini siapa namanya?? ^_^)
Didalam ruangan, Bidan Ana tersenyum, karena kepala sang bayi sudah terlihat, dengan semangat yang bertambah, dia beritahukan kepada si Ibu, dan si Ibu tersebut segera meningkatkan dorongannya, menarik lebih panjang nafas, dan membuang lebih banyak udara..

”Oooooeeeee….. Oooooeeeeee…..” suara yg sama terus terulang berkali-kali, dan tampak sesosok tubuh mungil, berlepotan darah dipeluk oleh sang bidan, hujan yg tadinya deras dan membuat berisik, tiba-tiba berhenti seakan-akan bumi ini ingin ikut menikmati suara tangisan makhluk tak berdosa ini, bintang yang biasanya muncul dimalam hari kali ini sekali-dua kali ikut menampakkan diri, sementara itu diujung khatulistiwa tampak 7 warna indah berbentuk setengah lingkaran, biasa disebut Pelangi menghiasi langit.

”Selamat Bu Emil, bayinya laki-laki” begitulah yg dikatakan Bidan Ana..

Keringat mengalir dari jidat nonongnya, seisi desa tampak bersuka cita.

Bidan Ana tahu dirinya telah melaksanakan tugasnya, sebuah tugas mulia yang tak kalah beratnya dengan pengorbanan seorang ibu yang mempertaruhkan nyawanya.

Tamat..

*Bidan itu lebih mulia dari seorang dokter sekalipun, karena disaat seorang dokter menyembuhkan pasiennya, dia tak pernah tahu apakah sang pasien adalah orang baik yg berhak hidup ataukah orang berdosa yg sepantasnya mati, tetapi disaat bidan melaksanakan tugasnya, dia membantu ”menghidupkan” makhluk suci yang masih bersih dari dosa)*

Tuhan memberikan kesempatan pertama bagi dirimu dan bidan-bidan lainnya, untuk menyelesaikan pekerjaan-Nya ”mengirimkan” para penerus kehidupan.

(Cerita ini hanya fiktif belaka, Kesamaan nama dan tempat memang disengaja)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar